Selasa, 05 Oktober 2010

Biodata Kusbini :
Nama:
Raden Kusbini
Lahir:
Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, 1 Januari 1910
Wafat:
Yogyakarta, 28 Februari 1991
Profesi:
Musisi, Pencipta lagu
Karya:
Bagimu Negeri
Cinta Tanah Air
Merdeka
Pembangunan
Salam Merdeka
Keroncong Purbakala
Pamulatsih
Bintang Senja Kala
Keroncong Sarinande
Keroncong Moresko
Dwi Tunggal
Ngumandang Kenang
Pengalaman Lain:
Pemusik dan penyanyi perusahaan rekaman piringan hitam Hoo Soen Hoo 1935-1939
Pemain film Jantung Hati dan film Air Mata Ibu 1941
Bekerja di Radio Militer Hooso Kanri Kyoku dan Pusat Kebudayaan Jepang di bidang musik
Penghargaan:
Piagam Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia

Nama Istri : Alm.Ngadiyem
Nama Putra dan Putri : Eka Ksvara, Dwi Ksvara, Tri Ksvara, Catur Ksvara, Titi Panca Ksvara, Titi Sad Ksvara, Sapta Ksvara, Titi Asta Ksvara, Nowo Ksvara, Dasa Ksvara, Titi Asih Ksvara.
 
#Kusbini Pencipta Lagu Bagimu Negeri
Seluruh pelosok negeri nusantara pernah mendengar dan menyanyikan lirik indah sebuah lagu, Bagimu Negeri, yang diciptakan oleh Kusbini. Dia berhasil menciptakan lagu fenomenal yang tetap dikumandangkan hingga saat ini karena lagunya sanggup membangkitkan semangat nasionalisme dan cinta tanah air Indonesia. Boleh dikatakan, ia termasuk salah satu pejuang kemerdekaan yang berjuang lewat karya dan lagu.

Seniman kelahiran 1 Januari 1910 di Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur ini, memulai kariernya bersama Jong Indisce Stryken Tokkel Orkest (Jitso), sebuah kumpulan musik keroncong di Surabaya. Merasa belum puas dengan pengetahuan musik yang didapatnya secara otodidak, Kusbini mengikuti pendidikan musik Apollo di Malang. Sembari belajar, Kusbini yang mendapat julukan ‘buaya keroncong’ dari teman-temannya ini, terus tampil sebagai penyanyi keroncong dan pemain biola pada siaran Nirom dan Cirvo di Surabaya.
Selain lagu Bagimu Negeri, Kusbini juga mengarang lagu bertemakan semangat kemerdekaan lainnya seperti Cinta Tanah Air, Merdeka, Pembangunan, Salam Merdeka. Selain itu, ia mencipta puluhan lagu keroncong, seperti Keroncong Purbakala, Pamulatsih, Bintang Senja Kala, Keroncong Sarinande, Keroncong Moresko, Dwi Tunggal, dan Ngumandang Kenang. Salah satu lagu keroncong yang bertemakan semangat kemerdekaan adalah Kewajiban Manusia. Lagu ini mengajak bangsa Indonesia untuk terus menggalang persatuan dalam mencapai kemerdekaan. 

Kusbini pernah menjadi pemain musik dan penyanyi untuk perusahaan rekaman piringan hitam Hoo Soen Hoo. Saat itu, sekitar tahun 1935 hingga 1939, kariernya mulai menanjak dan namanya semakin dikenal. Terutama saat dia mulai mendalami dan berkarya lewat lagu-lagu keroncong dan stambul.
Kiprah Kusbini kian mengharumkan namanya pada 1941. Saat itu ia mendapat kesempatan untuk bermain film dimana sejumlah lagu digunakan untuk mengisi musik yang khusus diciptakan untuk film Jantung Hati dan film Air Mata Ibu.
Pada masa pendudukan Jepang, Kusbini sempat bekerja di Radio Militer Hooso Kanri Kyoku dan Pusat Kebudayaan Jepang di bidang musik. Pada masa itu Kusbini banyak bekerja sama dengan Ismail Marzuki, Cornel Simanjuntak, Sanusi Pane, dan seniman lainnya.

Kusbini yang juga ikut menyempurnakan teks lagu kebangsaan Indonesia Raya ini memperoleh penghormatan dari pemerintah berupa Anugerah Seni Pemerintah Republik Indonesia.
Ia wafat pada 28 Februari 1991 di kediamannya yang sederhana di Pengok, Yogyakarta dan dikebumikan dengan iringan musik lagu Perdamaian yang diciptakannya sendiri.

*Kusbini "Bagimu Negeri" Terima Royalti
YOGYAKARTA -- Kusbini, pengarang lagu "Bagimu Negeri" memang sudah meninggal cukup lama. Tetapi lagu-lagu karangannya masih sering terdengar hingga saat ini, sehingga anggota penitia lagu kebangsaan Indonesia raya inipun juga masih memperoleh royalty.
Adalah, Penerbit Musik Pertiwi (PMP) yang memberikan royalty atas lagu-lagu karangan Alm Kusbini yang diciptakan pemusik Indonesia ini sejak tahun 1996 lalu.
Royalty itupun diberikan langsung oleh General Manager PMP Andy Hutadjulu kepada ahli waris Alm Kusbini di rumahnya Jl Kusbini Yogyakarta, Senin kemarin.
''Lagu-lagu ciptaan Kusbini kami kelola secara profesional, sehingga ini merupakan warisan kekayaan intelektual dalm bidang lagu,'' terang Andy usai menyerahkan royalty kepada ahli waris Alm Kusbini.
Royalti yang diberikan PMP kepada ahli waris Kusbini itupun sebanyak Rp 36.287.648 untuk periode Januari-Desember 2008.
Diakui Andy,lagu-lagu Kusbini sudah dikelola oleh PMP sejak 1996. lagu-lagu karangannya antara lain Bagimu Negeri yang menjadi lagu kebangsaan Indonesia, Nina Bobo, Padi Menguning, ronce Melati, Kr Moresko, Serenade, Bintang Surabaya, Pastorale dan lain-lain.
Kusbini merupakan pengarang lagu dan pemain musik khususnya biola pada jaman Presiden RI Pertama, Soekarno. Bakat dan kepiawaian Kusbini dilirik oleh Soekarno untuk bisa bergabung dalam Panitia lagu kebangsaan Indonesia raya bersama WR Suprtaman, Sanusi Pane, Muh Yamin, C Simanjuntak dan Ibu Soed.
Royalty yang diberikan kepada Kusbini merupakan hasil penjualan kepingan compact disk/kaset yang terjual di dalam maupun di luar negeri melalui mekanisme undang undang no 19 tahun 2002 tentang hak cipta dan memenuhi peraturan perpajakan yang berlaku.

Kehidupan Kusbini sebagi tokoh naional tergolong sangat sederhana. Terlihat dari rumahnya yang ada di jalan Kusbini 25 yang saat ini digunakan sebagai sekolah musik Sanggar Olah Seni Indonesia (Sosi). Kusbini kelahiran Desa Kemlangi, Mojokerto Jawatimur 9 Januari 1908 itu wafat pada 30 Maret 1991 dengan meninggalkan 11 anak.
Menurut Dwi Kusvara, anak kedua Kusbini, royalty yang diterima keluarga digunakan untuk mengembangkan sanggar milik ayah mereka. Karena Kusbini tidak mewariskan kekayaan kepada anak-anaknya melainkan bakat seni musiknya.
Selama hidup, kata Dwi, Kusbini telah mengabdikan diri kepada perjuangan, memajukan dan meningkatkan kwalitas musik Indonesia. Sebagai salah satu bentuk apresiasi jasa-jasanya, pemerintah Indonesia telah menganugerahi Piagam Seni pada 1972 dan penghargaan dari Departemen Keamanan Komando Wilayah Pertahanan II pada 1976.

*Royalti bagi Komponis "Bagimu Negeri"
Tanggal 30 Maret 1991, Raden Kusbini mengembuskan napas terakhir dalam usia 81 tahun. Tepat 18 tahun kemudian, ahli warisnya mengunduh apa yang telah ia tanam, meskipun dalam hati kecil sang komponis barangkali tak pernah berharap karya-karyanya dihargai lebih dari sebuah pengabdian kepada Tanah Air.
R Kusbini memang telah tiada. Namun, warisannya masih terus menyertai bangsa ini. Sebait syair lagu Padamu negeri kami berjanji/Padamu negeri kami berbakti/ Padamu negeri kami mengabdi/ Bagimu negeri jiwa raga kami masih terus terpatri di sanubari dan dikumandangkan tiap kali ada pergelaran yang bersifat memupuk rasa nasionalisme.
"Bapak memang bukan komponis yang kaya. Namun, ia sangat menginginkan anak-anaknya menjadi pedagogi untuk bisa ngajar musik," kata Dwi Ksvara (54), anak kedua Kusbini.
Siang itu, mengenakan hem batik lengan panjang, Dwi Ksvara bersama adiknya, Catur Ksvara (53), sibuk mempersiapkan tempat berlangsungnya pemberian royalti dari PT Penerbit Musik Pratiwi (PMP) dalam sebuah acara temu kangen pencipta lagu keroncong di Yogyakarta. Acara sederhana itu digelar di ruang kelas Sanggar Olah Seni Indonesia (SOSI) di Jalan Kusbini Nomor 25 A, Pengok.
Di tempat sempit yang dibangun sejak 1971 itulah, anak-anak Kusbini biasa mengajarkan keterampilan bermusik kepada para murid, seperti piano dan biola. Di tempat itu pula, anak-anaknya berusaha mewujudkan harapan orangtua untuk tetap memerhatikan musik.
Bahkan, mereka tidak terhenti sebatas mengajar, melainkan juga ingin membuat sesuatu yang lebih besar, yakni terbentuknya kelompok musik Kusbini Orchestra dan Kusbini Bersaudara. Komponis yang lahir di Desa Kemlagi, Mojokerto, Jawa Timur, ini memang memiliki 11 anak dan semua mampu bermain serta mengajar musik.
Di mata orang awam, Kusbini memang dikenal sebagai pencipta lagu Bagimu Negeri yang bisa disejajarkan dengan Ismail Marzuki, Gesang, atau Wage Rudolf Supratman. Namun, di luar itu ternyata masih banyak lagu lain yang ia ciptakan, baik itu yang bernuansa seriosa, keroncong, hymne, bahkan lagu anak. Lagu yang cukup terkenal adalah Padi Menguning, Ronce Melati, Nina Bobo, Keroncong Moresko, Perdamaian, Serenade, Bintang Surabaya, dan Pastorale.
 
*Padamu Negeri Tandai Pengesahan UU PA
Jakarta - "Padamu negeri kami berjanji..." Lagu ciptaan Kusbini itu menggema di ruang rapat paripurna DPR, begitu semua fraksi secara aklamasi menyetujui RUU Pemerintahan Aceh (PA) sah menjadi UU. Dengan lantang Ketua DPR Agung Laksono memimpin anggota DPR menyanyikan lagu itu. Dengan penuh semangat peserta rapat dan pengunjung sidang menyanyikan lagu sambil berdiri. Nuansa heroik pun kental terasa. Rapat berlangsung di Gedung DPR, Jl Gatot Soebroto, Jakarta, Selasa (11/7/2006). Meski demikian, bukan berarti pengesahan ini tanpa catatan. Carol Daniel Padang dari FPDS masih mempermasalahkan nama UU. "Kami menginginkan judulnya UU Pemerintahan Daerah Aceh. Karena dengan judul yang sekarang, terbersit anggapan Aceh berbeda dengan Indonesia," ujar Carol. Dalam kesempatan itu, Sutradara Gintings dari FPDIP mendapat respons meriah dari pengunjung rapat. Namun dia tetap kalem membacakan pandangan fraksi. "Menurut fraksi kami, UU ini belum menjamin kesejahteraan dan keadilan, hanya berfokus kepada pemerintahan. Selain itu revitalisasi budaya juga belum diperhatikan, termasuk pelanggaran HAM," katanya. Meski demikian tidak ada interupsi dan pembahasan catatan. Dengan demikian UU PA telah disahkan DPR. (Ika YK)
Kusbini Bersaudara  adalah salah satu band putra Kusbini.









2 komentar:

  1. Salam. Hormat saya kepada Pak Kusbini beserta keluarganya. Saya ingin mengapresiasi karya2 pak Kusbini terutama yg berkaitan dengan musik Keroncong. Apakah keluarga pak Kusbini menyimpan arsip2nya? Salam

    BalasHapus
  2. Selamat jalan pahlawanku... .

    BalasHapus